Maret 13, 2018

Honest Review: Cerave Hydrating Facial Cleanser, Solusi Pembersih Wajah untuk Kulit Kering

cerave hyrdating-atikahamalia(dot)com-graphic

Untuk kamu yang mencari cleanser atau pembersih wajah yang ramah untuk kulit kering, semoga review saya tentang CeraVe Hydrating Facial Cleanser kali ini bermanfaat ya. Mengenai pembersih wajah, saya sendiri sudah terhitung tiga kali berganti cleanser karena hasilnya kurang memuaskan; kulit menjadi ‘ketarik’, berjerawat, atau malah jadi kusam. Namun, setelah 6 bulan memakai CeraVe Hydrating Facial Cleanser, saya merasa wajiiib bangeeet untuk menyampaikan honest review saya tentang cleanser ini.


CeraVe Hydrating Facial Cleanser yang saya pakai ditujukan untuk kulit normal dan kulit kering. Klaim dari produk ini adalah membersihkan sekaligus melembabkan wajah. Dengan kandungan 3 jenis ceramide dan hyaluronic acid dalam cleanser ini, CeraVe menjamin untuk pemilik kulit wajah kering (bahkan yang memiliki eczema) khawatir kehilangan kelembaban wajah. Setelah saya cari tahu, ternyata ceramide adalah sejenis zat yang berfungsi untuk menjaga kelembaban kulit sedangkan hyaluronic acid adalah zat yang berfungsi untuk meningkatkan kelembaban, menghaluskan, dan mengencangkan kulit. Wah kayaknya kece nih. Berikut tampilan dari si CeraVe Hydrating Facial Cleanser yang saya pakai;

CeraVe Hydrating Facial Cleanser kemasan 470ml


CeraVe Hydrating Facial Cleanser. Nampak dari depan. Dari kandungan Ceramide dan Hyaluronic Acid-nya sudah bikin pengen coba ya?

Setelah 6 bulan pemakaian, saya dapat menyimpulkan beberapa hal berikut ini,

Kulit wajah terasa ringan, lembab, tanpa sensasi ‘tertarik’

Salah satu problematika kulit kering ketika memakai pembersih wajah atau cleanser adalah takut adanya rasa kering dan ‘tertarik’ setelah membersihkan wajah, namun saya merasakan hal sebaliknya saat mencoba CeraVe Hydrating Facial Cleanser. 
Katanya sih, selain dari kandungan ceramide itu sendiri, hal ini juga dikarenakan pembersih ini sama sekali tidak mengeluarkan busa (yang biasanya) menyebabkan kulit menjadi kering.
Saat pemakaian pun terasa seperti tidak memakai sabun loh. Tidak ada rasa dingin atau mengeluarkan aroma. Yang paling saya suka, ketika dibilas, kulit tidak terasa kesat namun sukses membuat wajah saya terasa ringan dan bersih.



Tidak perih, walau sedikit terasa panas pada kulit terluka

Kebiasaan jelek saya adalah menggaruk kulit, tak peduli kulit badan atau wajah (jangan ditiru ya, hehe). Tak jarang muncul luka tak kasat mata akibat kebiasaan jelek ini. Hal ini menimbulkan rasa perih ketika bersentuhan dengan pembersih wajah. Namun, saya tidak merasakan hal ini ketika mengusap wajah dengan cleanser ini, bukan berarti tidak ada sensasi apa-apa loh ya. Hanya terasa sedikit panas di daerah kulit yang saya garuk tadi. Tapi tidak perlu khawatir, sensasi ‘panas’ ini akan menghilang perlahan dan total setelah dibilas.



Tidak mengandung Pewangi dan Aman untuk kulit alergi

Pernah beberapa kali saya memakai cleanser ini ketika kulit wajah saya sedang muncul ruam-ruam kering akibat alergi yang kambuh. Saya berpikir produk ini toh aman untuk para pejuang eczema dan tidak mengandung bahan pewangi yang biasanya memicu reaksi perih. Ternyata klaim si CeraVe ini enggak bohong loh. Hasilnya wajah saya tetap terasa lembab dan bersih. Bahkan setelah saya pakai dan dilanjutkan dengan pelembab Cetaphil Moisturizing Cream Face & Body for Chronic Dry Skin dalam beberapa hari, reaksi alergi saya mereda.



Tidak mencerahkan, tidak pula membuat kusam

Pada dasarnya Facial Cleanser ini hanya mengklaim membersihkan dan melembabkan. Apalagi pembersih ini ditujukan untuk kulit yang memiliki gangguan pada kulit seperti eczema. 
Jadi saya tidak berharap banyak sih. Setidaknya, kulit tidak kusam ‘kan? Hehe. Jadi saran saya lebih baik diimbangi dengan produk pencerah lainnya. Kalau saya ‘sih pakai Wardah White Secret Intense Brightening Essence untuk serum pencerah, Freeman Renewing Cucumber Peel-Off Gel Mask untuk eksfoliasi jika kulit sedang terasa tidak terlalu lembab dan The Body Shop Japanese Matcha Tea Deep Cleansing Mask untuk eksfoliasi mingguan jika kulit sedang berjerawat dan sehabis kegiatan diluar rumah seharian.




Bisa Menimbulkan Jerawat Bila Tidak Dibarengi dengan Double Cleansing

Wah, kalau ini sih berlaku di semua pemakaian produk pembersih apapun ya? Hahaha. Jauh sebelum saya mengenal portal berita femaledaily(dot)com saya sama sekali tidak kenal sama yang namanya double cleansing, exfoliating, apalagi perbedaan hydrating dan moisturizing. Pantas saja semua produk saya bilang engak cocok dulu, haha. Jadi buat teman-teman yang memiliki kulit kering seperti saya, jangan bolos double cleansing ya!

Tips dari saya, untuk kulit sangat kering ada baiknya menghindari menggunakan pembersih wajah di pagi hari. Cukup dibersihkan dengan menggosok lembut kulit wajah dengan jemari hingga terasa butiran atau gerenjelan kulit mati terkelupas (jika kamu punya jerawat atau komedo membandel di area T-Zone, silahkan tetap aplikasikan pembersih wajah di area tersebut). Nah, untuk malam hari saat  ritual double cleansing, boleh diawali dengan memakai cleansing oil / cleansing balm  atau sekedar micellar water. Baru dilanjutkan dengan Cerave Hydrating Facial Cleanser. Tapi kalau kamu memang kurang cocok dengan metode cuci muka tanpa cleanser di pagi hari jangan dipaksa ya. Pada dasarnya kebutuhan dan sifat kulit setiap orang memang berbeda, jadi silahkan pakai cara yang membuat kulitmu nyaman yaa.



Sampai saat ini saya masih menggunakan pembersih ini untuk pemakaian sehari-hari karena so far, memang baru cleanser ini yang membersihkan wajah tanpa membuat kulit saya iritasi. Sejauh ini salah satu kekurangan (eksternal) dari produk ini adalah belum masuk Indonesia. Jadi jika memutuskan ingin mencoba produk ini, harus cari online shop yang menjual produk impor. 


Dari segi harga, lumayan cocok untuk kantong mahasiswa karena CeraVe sendiri menghadirkan beberapa varian ukuran dimulai 87ml (sekitar 100rban) sampai 475ml (sekitar 400rban). Ohiya, cleanser ini juga ada dalam kemasan sabun batang / bar. Jadi bisa sesuaikan dengan preferensi kamu ya. Kalau saya sih lebih suka varian cair karena entah kenapa lebih terasa hydrating saja di kulit saya hehe.




Sekian Review Cerave Hydrating Facial Cleanser berdasarkan pengalaman 6 bulan lebih pada kulit wajah saya. Review ini murni karena keinginan saya berbagi pada pemilik kulit kering dan alergi diluar sana yang sering kali kesulitan mencari pembersih wajah atau cleanser yang aman untuk kulit kering. Kalaupun memang ternyata pembersih ini kurang cocok di wajahmu, jangan patah semangat ya! Jika kamu punya rekomendasi pembersih wajah / cleanser yang cocok untuk kulit kering dan alergi, silahkan share di kolom komentar.





Warm hugs,

Atikah Amalia



Februari 04, 2018

Kenali 5 Fase Rasa Duka dan Cara Mengatasinya

credit: pinterest


Kehilangan orang yang dicintai pastinya bukan hal yang mudah. Ketika kamu kehilangan seseorang, perasaan sedih, marah, dan kecewa sering dirasakan orang yang ditinggalkan. Perasaan-perasaan ini disebut sebagai rasa duka. Tak jarang, mereka yang ditinggalkan begitu larut dalam duka hingga rentan untuk melakukan hal-hal negatif. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenali 5 (lima) fase dari rasa duka dan cara mengatasinya. Apa saja kelima fase itu dan cara mengatasinya?

Menurut para ahli, rasa duka adalah perasaan alami yang muncul akibat ditinggalkan seseorang yang dicintai. Rasa duka juga tidak hanya sekedar berkabung bersedih mengingat mereka yang telah pergi, ternyata, duka sendiri terdiri menjadi 5 fase;



1. Denial atau penolakan.


Secara alami, sebagian kecil dari pikiran kita tidak menerima kenyataan yang ada dengan melakukan penolakan.

“Enggak…enggak…. Enggak mungkin, dia pasti lagi bercanda aja nih,”
“Enggak, ini pasti Cuma hoax doang,”
“Kamu lagi tidur aja ‘kan? Ayo dong, bangun,”

Fase ini dapat dirasakan ketika seseorang telah dinyatakan benar-benar pergi atau masih dalam fase kritis


2. Anger atau amarah


Penyalahan terhadap individu terjadi pada fase ini. Bisa kepada diri sendiri, orang lain, atau pada objek tertentu. Biasanya muncul perkataan seperti;

 “Kenapa enggak aku aja yang mati?”

“Semuanya gara-gara aku”

Bisa juga dalam bentuk menyalahkan orang lain atas perkara kematian, seperti dokter yang menangani kejadian.


3. Bargaining and Regret, atau Pengandaian dan Penyesalan


Ada yang bilang, penyesalan selalu datang diakhir. Fase ini seseorang akan melakukan berbagai pengandaian atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat si mereka yang pergi mungkin tidak mengalami kematian.

“Coba aja dari dulu gue suruh dia supaya jalanin hidup sehat,”
“Seandainya dia rajin check-up ke dokter,”

Tak jarang, pengandaian ini berujung pada penyesalan, dimana yang ditinggalkan menyesal karena tidak menghabiskan banyak waktu semasa mereka yang sudah pergi masih ada di dunia.


4. Sadness or Depression,


Kesedihan karena ditinggalkan bisa jadi berlarut-larut dan bertambah. Apalagi jika dibarengi oleh penyesalan atas sesuatu belum tersampaikan pada mereka yang sudah pergi atau penyesalan atas kata-kata yang pernah diucapkan kepada mereka yang sudah pergi. Kesedihan dan penyesalan yang berlarut-larut bisa menyebabkan seseorang menjadi depresi. Hal ini bisa mengarah ke perbuatan-perbuatan negatif.


5. Acceptance


Pada fase ini, orang yang ditinggalkan sudah dapat menerima kenyataan bahwa dia sudah pergi dan mereka harus move on. Dari kelima fase ini, perlu diketahui bahwa tidak semua orang mencapai fase 
acceptance. Ada yang berhenti di fase anger atau bahkan di fase depression. Oleh karena itu, penanganan lebih lanjut ke psikiatri sangat disarankan bagi yang merasakan duka berkepanjangan. Namun, ada cara lain untuk menghadapi perasaan ini. Mengingat bahwa rasa duka adalah perasaan alami  yang tidak bisa dihindari, maka salah satu solusi yang ditawarkan oleh para ahli adalah dengan;

menerima 

Terimalah rasa sakit, kecewa, kehilangan, kesepian atau rasa apapun yang kamu alami ketika ditinggal olehnya. Kumpulkan semua barang yang mengingatkanmu dengan dirinyayang sudah pergi dan renungkanlah kenangan bahagia yang kamu alami bersamanya.

Kemudian ingatlah, bahwa dunia tidak akan berhenti hanya kamu bersedih dan dia yang pergi pasti ingin kamu bahagia.

Jika rasa dukamu tak kunjung berakhir, maka terapi dari psikolog sangat disarankan mengingat kondisi psikologis dan kondisi setiap orang saling berbeda.


Siapapun dirimu, kamu berhak untuk bahagia.



Oktober 09, 2017

Melukis dengan Cat Air Sebagai Penghilang Stress, Emang bisa?

PENGARUH STRESS rupanya tidak hanya berdampak pada kesehatan, namun juga kemampuan untuk mengontrol kesabaran diri sendiri. Katanya sih salah satu cara untuk menghilangkan stress adalah dengan menuangkannya dalam hobi, salah satunya adalah dengan melukis. Loh, emang iya bisa?


Akhir-akhir ini (berkat skripsi tercinta), secara enggak sadar gue lebih sering marah dan gregetan terhadap sesuatu yang sepele. Sometimes  I wonder it by myself; “Ini hal sepele loh, kok sekarang jadi ngeselin banget ya?” Apakah karena lagi PMS kah? Atau apa ‘kah?

Ternyata, 4 tahun kuliah membuat gue lupa akan hobi masa kecil gue, yaitu ngelukis pakai cat air.

Jadi gue memutuskan untuk mulai mengambil cat air yang dikasih Yodi pas gue ulang tahun kemaren. Sempat terlintas dipikiran gue “Gambar apa ya?” karena udah capek apa-apa dipikirin jadi tuangin yang dipikiran aja dari kemarin; tanaman, pot, sofa, atau hmm... yaaa... apa aja deh yang di sekitar.

Setelah 4 jam ngulik Pinterest, liat tutorial di Youtube  dan coba-coba iseng, jadilah hasilnya begini;


gambar kanan: Proses outlining. Gambar kiri: Final 


Dan ketika udah jadi malah ketagihan!  Coba lagi dan lagi (walau ujung-ujungnya tanaman juga). Kali ini gue pindah dari meja makan ke Coffee Shop lokal dekat rumah.

Macam-macam botanical plants dari imajinasi (yang gak tau beneran ada atau engga di dunia nyata)

Contekan dari Pinterest dan Sofa Cafe yang dijadiin korban



Akhirnya, sampai pada titik dimana gue ngerasa menikmati sekali apa yang namanya proses.
Mengejutkannya, beberapa hari kemudian rasa ‘kesel’  dan ‘bawaan mau ngomel’ ternyata berangsur berkurang.

Bener enggak sih ini akibat dari ngelukis pakai cat air?


Rupanya jawabannya iya.

Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan oleh US National Library of Medicine dengan judul The Connection Between Art, Healing, and Public Healtth: A Review of Current Literature  [Hubungan antara Seni, Penyembuhan dan Kesehatan Masyarakat: Tinjauan Literatur Umum] menyimpulkan bahwa aspek seni visual mampu menurunkan tingkat stress, meningkatkan fokus dan membangkitkan pandangan positif terhadap kehidupan pasien yang menderita kanker dan penyakit kronis lainnya.


Kok bisa ‘sih?

Prosesnya ternyata simple loh. Para pasien  diminta memvisualisasikan kondisi yang mereka alami melalui menggambar dan memilih komposisi warna (tanpa memikirkan gambar mereka bagus atau tidak).

Rupanya, dari proses ini, dapat disimpulkan seni visual yang salah satunya adalah melukis dengan cat air ini mampu mengekspresikan pikiran para pasien tanpa harus memikirkan kata-kata yang akan diucap, gengs. Metode ini uga dianggap  yang dianggap menarik karena dapat mengetahui pengertian para pasien akan sakit yang mereka alami.

Hasilnyapun para pasien yang kebanyakan menderita penyakit kronis dapat lebih berpandangan positif untuk kedepannya. Yang berarti, secara tidak langsung mendukung pengobatan diri mereka untuk keadaan yang lebih baik.

Seperti yang dikutip jurnal yang bersangkutan;


 “Art can be a refuge from the intense emotions associated with illness”

 [Seni dapat dijadikan alternatif menghindari emosi terdalam akibat dari penyakit yang diderita]


Jadi, bisa disimpulkan buat kamu yang lagi mikirin skripsi, kuliah, gebetan atau mantan, eh, maksudnya lagi banyak pikiran gitu deh, Boleh coba tuangkan pikiran kamu dengan melukis dengan cat air gengs.

Cat air banget ya? Enggak juga sih, in my humblest opinion, kamu bisa tuangkan pikiran kamu dalam seni manapun. Mulai dengan kertas kosong dan pensil 2B juga bisa kok!


Selamat berseni semua!






Artikel ini bermanfaat? Yuk berbagi ke yang lain! ツ Jangan lupa comment pikiranmu tentang artikel ini ya, have a nice day lovelies!
COPYRIGHT © 2018 ATIKAH AMALIA · THEME BY RUMAH ES