Hi! Thanks for Coming

11:43:00 PM

Hey there! the blog is currently under construction for about a few days ahead. You could enjoy my previous posts about health and watercolour. Thanks for visiting! :)

Kesehatan

Kenali 5 Fase Rasa Duka dan Cara Mengatasinya

11:31:00 PM

credit: pinterest

Kehilangan orang yang dicintai pastinya bukan hal yang mudah.

Rasa sedih, marah, dan kecewa sering dirasakan orang yang ditinggalkan, perasaan-perasaan ini disebut sebagai rasa duka.

Tak jarang, mereka yang ditinggalkan begitu larut dalam duka hingga rentan untuk melakukan hal-hal negatif.  

Pada dasarnya, duka adalah perasaan alami yang timbul dari kehilangan orang yang dicintai. Lantas bagaimana cara menghadapinya?

Menurut para ahli, rasa duka adalah perasaan alami yang muncul akibat ditinggalkan seseorang yang dicintai. Rasa duka juga tidak hanya sekedar berkabung bersedih mengingat mereka yang telah pergi, ternyata, duka sendiri terdiri menjadi 5 fase;


1. Denial atau penolakan.

Secara alami, sebagian kecil dari pikiran kita tidak menerima kenyataan yang ada dengan melakukan penolakan.

“Enggak…enggak…. Enggak mungkin, dia pasti lagi bercanda aja nih,”
“Enggak, ini pasti Cuma hoax doang,”
“Kamu lagi tidur aja ‘kan? Ayo dong, bangun,”

Fase ini dapat dirasakan ketika seseorang telah dinyatakan benar-benar pergi atau masih dalam fase kritis


2. Anger atau amarah

Penyalahan terhadap individu terjadi pada fase ini. Bisa kepada diri sendiri, orang lain, atau pada objek tertentu. Biasanya muncul perkataan seperti;

 “Kenapa enggak aku aja yang mati?”

“Semuanya gara-gara aku”

Bisa juga dalam bentuk menyalahkan orang lain atas perkara kematian, seperti dokter yang menangani kejadian.


3. Bargaining & Regret, atau Pengandaian & Penyesalan

Ada yang bilang, penyesalan selalu datang diakhir. Fase ini seseorang akan melakukan berbagai pengandaian atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat si mereka yang pergi mungkin tidak mengalami kematian.

“Coba aja dari dulu gue suruh dia supaya jalanin hidup sehat,”
“Seandainya dia rajin check-up ke dokter,”

Tak jarang, pengandaian ini berujung pada penyesalan, dimana yang ditinggalkan menyesal karena tidak menghabiskan banyak waktu semasa mereka yang sudah pergi masih ada di dunia.


4. Sadness or Depression,

Kesedihan karena ditinggalkan bisa jadi berlarut-larut dan bertambah. Apalagi jika dibarengi oleh penyesalan atas sesuatu belum tersampaikan pada mereka yang sudah pergi atau penyesalan atas kata-kata yang pernah diucapkan kepada mereka yang sudah pergi. Kesedihan dan penyesalan yang berlarut-larut bisa menyebabkan seseorang menjadi depresi. Hal ini bisa mengarah ke perbuatan-perbuatan negatif.


5. Acceptance

Pada fase ini, orang yang ditinggalkan sudah dapat menerima kenyataan bahwa dia sudah pergi dan mereka harus move on.


Dari kelima fase ini, perlu diketahui bahwa tidak semua orang mencapai fase 
acceptance. Ada yang berhenti di fase anger atau bahkan di fase depression. Oleh karena itu, penanganan lebih lanjut ke psikiatri sangat disarankan bagi yang merasakan duka berkepanjangan.

 Namun, ada cara lain untuk menghadapi perasaan ini. Mengingat bahwa rasa duka adalah perasaan alami  yang tidak bisa dihindari, maka salah satu solusi yang ditawarkan oleh para ahli adalah dengan;

menerima 

Terimalah rasa sakit, kecewa, kehilangan, kesepian atau rasa apapun yang kamu alami ketika ditinggal olehnya. Kumpulkan semua barang yang mengingatkanmu dengan dirinyayang sudah pergi dan renungkanlah kenangan bahagia yang kamu alami bersamanya.

Kemudian ingatlah, bahwa dunia tidak akan berhenti hanya kamu bersedih dan dia yang pergi pasti ingin kamu bahagia.

Jika rasa dukamu tak kunjung berakhir, maka terapi dari psikolog sangat disarankan mengingat kondisi psikologis dan kondisi setiap orang saling berbeda.


Siapapun dirimu, kamu berhak untuk bahagia.



cara melukis dengan cat air

Goresan Harian: Melukis dengan Cat Air Sebagai Penghilang Stress, Emang bisa?

3:17:00 AM

PENGARUH STRESS rupanya tidak hanya berdampak pada kesehatan, namun juga kemampuan untuk mengontrol kesabaran diri sendiri. Katanya sih salah satu cara untuk menghilangkan stress adalah dengan menuangkannya dalam hobi, salah satunya adalah dengan melukis. Loh, emang iya bisa?

Akhir-akhir ini (berkat skripsi tercinta), secara enggak sadar gue lebih sering marah dan gregetan terhadap sesuatu yang sepele. Sometimes  I wonder it by myself; “Ini hal sepele loh, kok sekarang jadi ngeselin banget ya?” Apakah karena lagi PMS kah? Atau apa ‘kah?


Ternyata, 4 tahun kuliah membuat gue lupa akan hobi masa kecil gue, yaitu ngelukis pakai cat air.

Jadi gue memutuskan untuk mulai mengambil cat air yang dikasih Yodi pas gue ulang tahun kemaren. Sempat terlintas dipikiran gue “Gambar apa ya?” karena udah capek apa-apa dipikirin jadi tuangin yang dipikiran aja dari kemarin; tanaman, pot, sofa, atau hmm... yaaa... apa aja deh yang di sekitar.

Setelah 4 jam ngulik Pinterest, liat tutorial di Youtube  dan coba-coba iseng, jadilah hasilnya begini;


gambar kanan: Proses outlining. Gambar kiri: Final 


Dan ketika udah jadi malah ketagihan!  Coba lagi dan lagi (walau ujung-ujungnya tanaman juga). Kali ini gue pindah dari meja makan ke Coffee Shop lokal dekat rumah.

Macam-macam botanical plants dari imajinasi (yang gak tau beneran ada atau engga di dunia nyata)

Contekan dari Pinterest dan Sofa Cafe yang dijadiin korban



Akhirnya, sampai pada titik dimana gue ngerasa menikmati sekali apa yang namanya proses.
Mengejutkannya, beberapa hari kemudian rasa ‘kesel’  dan ‘bawaan mau ngomel’ ternyata berangsur berkurang.

Bener enggak sih ini akibat dari ngelukis pakai cat air?


Rupanya jawabannya iya.

Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan oleh US National Library of Medicine dengan judul The Connection Between Art, Healing, and Public Healtth: A Review of Current Literature  [Hubungan antara Seni, Penyembuhan dan Kesehatan Masyarakat: Tinjauan Literatur Umum] menyimpulkan bahwa aspek seni visual mampu menurunkan tingkat stress, meningkatkan fokus dan membangkitkan pandangan positif terhadap kehidupan pasien yang menderita kanker dan penyakit kronis lainnya.

Kok bisa ‘sih?

Prosesnya ternyata simple loh. Para pasien  diminta memvisualisasikan kondisi yang mereka alami melalui menggambar dan memilih komposisi warna (tanpa memikirkan gambar mereka bagus atau tidak).

Rupanya, dari proses ini, dapat disimpulkan seni visual yang salah satunya adalah melukis dengan cat air ini mampu mengekspresikan pikiran para pasien tanpa harus memikirkan kata-kata yang akan diucap, gengs. Metode ini uga dianggap  yang dianggap menarik karena dapat mengetahui pengertian para pasien akan sakit yang mereka alami.

Hasilnyapun para pasien yang kebanyakan menderita penyakit kronis dapat lebih berpandangan positif untuk kedepannya. Yang berarti, secara tidak langsung mendukung pengobatan diri mereka untuk keadaan yang lebih baik.

Seperti yang dikutip jurnal yang bersangkutan;


 “Art can be a refuge from the intense emotions associated with illness”

 [Seni dapat dijadikan alternatif menghindari emosi terdalam akibat dari penyakit yang diderita]


Jadi, bisa disimpulkan buat kamu yang lagi mikirin skripsi, kuliah, gebetan atau mantan, eh, maksudnya lagi banyak pikiran gitu deh, Boleh coba tuangkan pikiran kamu dengan melukis dengan cat air gengs.

Cat air banget ya? Enggak juga sih, in my humblest opinion, kamu bisa tuangkan pikiran kamu dalam seni manapun. Mulai dengan kertas kosong dan pensil 2B juga bisa kok!


Selamat berseni semua!






Artikel ini bermanfaat? Yuk berbagi ke yang lain! ツ Jangan lupa comment pikiranmu tentang artikel ini ya, have a nice day lovelies!

Note

Hi,

11:18:00 PM

So Hi,

It may be a the 123437832947328th post of I'm sorry that I am a bad and procrastinator blogger, even though I know there will be nobody of my followers will read this (Twitter, anyone?) but okay, I'll go start another one.

Sorry for being a heavy-procrastinator-blogger.

Wait, I'm not done yet.

If you have been following my blog since 2010, you must be know why I named this blog "Breakfast with Tea" and the tagline is "Don't blame the random things" because technically, I post about it. And seeing my previous posts before 2011 was like seeing the ugliest posts in the world and apparently they're mine.

So I deleted them.

If you are a blogwalker and this is your first time clicking and viewing my blog, I shall congratulate you.
Congrats for not seeing my dumb posts before.


Okay, well, I think I should congratulate myself for re-entering blogging world again.

So, Hi again, I'm back!

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images